Senin, 29 Maret 2010

*) Asal Usul Gajah Mada


A. Kabut menyelimuti Asal Usul gajah mada
Gajah Mada adalah tokoh besar dan bahkan menjadi aset sejarah bangsa Indonesia. Dengan Sumpah Palapanya dalam kitab Negarakertagama ia berkata dan bersumpah " Dia tidak akan makan palapa ( hidup enak ) sebelum menyatukan Nusantara ".
Jasadan pengabdiannya yang sangat luar biasa dalam mengembangkan kejayaan Kerajaan Majapahit menjadikan namanya selalu dikenang dan menimbulkan angan kapan dia lahir kembali di masa kini, pendek kata Cita-cita, perjuangan dan pengabdiannya Gajah Mada menimbulkan inspirasi kepada generasi-generasi yang mencintai negeri ini.
Dalam kaitannya dengan masalah Gajah Mada , buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid I yang diterbitkan oleh Depdikbud 1979, tidak diketahui Siapa gajah Mada yang sebenarnya , Siapa Keluarganya, Kapan dan dimana tempat kelahirannya, serta siapa nama Aslinya ? namun tetap dalam buku itu tidak mengurangi peran Gajah Mada sebagai tokoh besar dan berjasa pada Negara di zamannya.
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa asal usul Gajah mada sampai saat ini masih diliputi kabut tebal , meskipun ada bebarap sumber yang menceritakan keberadaannya misalnya : Kitab Pararton, Kitab Negarakertagama, Kitab Sundayana ( perang bubat ), kitab Usana Jawa ( isinya tentang penaklukan Bali ) , kitab Babat Banten serta kronik-kronik China (Ma Huan dalam bukunya Ying Yai) serta dari berita dinating Ming ( 1368-1643).

B. Cerita Dari Babad Banten
Dalam kitab Babat banten ( Kitab sejarah Banten ) terdapat bagian yang memuat tentang Gajah Mada yaitu pupuh V yang menceritakan bahwa di Jawa datang seorang Brahmana dengan istrinya yang sedang hamil tua yaitu Ni Brahmani. Hidup dibawah sebuah pohon enau dan Brahma dan Ni Brahmani melahirkan seorang anak laki-laki, tetapi karena ketahuan orang dan di ketahui masyarakat keduanya kemudian pergi dari situ serta meninggalkan anaknya. Seseorang atau masyarakat mengambil anaknya Bramana dan Ni Brahmani diberi nama Mada, kemudian dipelihara dan tumbuh berkembang menjadi dewasa dan mempunyai kelebihan-kelebihan yang mendatangkan kebahagiaan masyarakat.
Karena kabar dan kelebihan-kelebihan terdengar oleh raja, maka dijadikanlah Mada menjadi pegawainya di istana dengan diberi tempat tinggal di desa Gagajah yang kemudian dengan pengaddian dan kelebihannya Mada diangkat menjadi Patih dan diberi gelar menurut daerah yang dikuasakan kepadanya " Patih Gajah Mada" ( Patih dari desa Gagajah bernama Mada ).
Kemudian Timbul pertanyaan Siapa nama Brahmana dan Ni Brahmani itu ? darimana, mengapa anaknya ditinggalkan ? tidak dijelaskan secara terang.
C. Kepercayaan dan Lontar Babad Gajah Mada di Bali
Seperti halnya ditulis dalam kitab Usaha Jawa , disitu diceritakan oleh orang Bali bahwa Gajah Mada dilahirkan di Pulau Bali tidak mempunyai Ibu dan Bapak melainkan keluar dari pancaran buah kelapa sebagai penjelmaan Sanghyang Narayana ke atas Dunia dan pada suatu ketika pindah ke Majapahit.
Ditemukannya salinan kitab " Lontar Babad Gajah Mada " di Bali dengan huruf dan bahasa Bali tengahan yang terdiri dari 17 lember dengan ukuran 50x3,5 cm ditulis bolak-balik tiap halaman terdiri dari 4 baris , sedikit banyak asal usul Gajah Mada , Raja Sri Khresna Kapakisan hubungannya dengan Majapahit dan Mpu Kuturan waktu memerintah di Bali berkat kajian I gusti Ngurah Ray Mirsha menjadi terkuak.
Dalam Babad tersebut diceritakan bahwa ada Brahmana dan Ni Brahmani suami istri di Wilwatikta, yang bernama Suradharmawisesa dan Nariratih, keduanya disucikan ( diabiseka menjadi pendeta ) oleh Mpu Nagarunting Gurunya di Lemah surat. Setelah disucikan Suradharmawisesa mengganti nama Mpu Suradharmayogi dan Nariratih menjadi Patni Nariratih.
Kedua pendeta suami istri itu melakukan ritual tapa brata - bharata ( disiplin ) kependetaan yaitu " semala brahmacari " ( artinya tidak boleh melakukan kegiatan suami istri sebagaimana layaknya). Untuk itu keduanya harus menjaga bharata dengan memisahkan diri tempat tinggalnya , Mpu Suradharmayogi memilih tempat tinggal di Gili Madri diselatan Lemah surat, sedangkan Patni Nariratih tinggal di rumah asalnya di Wilwatikta, namun keduanya masih sering ketemu dalam jamuan untuk membawakan santapan sehari-hari karena memang tempatnya tidak terlalu jauh.
Pada suatu hari soma, umanis, tolu, sasi ka dasa( Senin legi tolu bulan april ) Patni Nariratih mengantarkan santapan untuk suaminya di Gili Madri , ada suatu peristiwa dimana pada waktu hendak menyantap makanan, air minumnya tumpah, dan nariratih takut dan lari sehingga suaminya Mpu Suradharmayogi harus mencari air minum itu lebih dahulu yang letaknya agak jauh dari tempat Gili Madri dengan menuju arah barat.
Dalam keadaan Patni Nariratih yang demikian sedih inilah, maka timbullah keinginan Mpu Suradharmayogi menyamar ( masiluman ) sebagai Sang Hyang Brahma untuk menghibur dan akhirnya muncul syahwat atau keinginan untuk bersenggama secara paksa pada istrinya yang awalnya tetap menolak karena terikat dengan "sewala brahmacari", Kejadian hamil yang akan menimbulkan fitnah dan prahara lama kelamaan tidak bisa dihindari.
Kejadian demikian ini menyadarkan keduanya untuk mengambil keputusan meninggalkan Asrama Wilwatikta dan Gili madri menuju pengembaraan dari hutan kegunung , jauh dari asalnya dengan tidak tahu kemana tujuannya, hingga kehamilan Patni Nariratih semakin besar dan waktunya untuk melahirkan. Perjalanan sudah sampai Gunung semeru kemudian keduanya menuju arah barat daya , lalu sampailah keduanya di desa Maddha waktu menjelang malam dibawalah Patni Nariratih ke " bale agung " di kahyangan desa tersebut untuk melahirkan.
Setelah lahir sesuai babad tersebut terdapat kalimat " Ong Sri Sakawarsa Jwa Mrtha yogi swaha ( Ong sri Sakawarsa = selamatlah tahun saka - jiwa =1 , mrtha = 2 yogi = 2 dan swaha = 1 ) tahun 1221 C ( 1299 M) , maka keduanya meninggalkan anak laki-laki yang dilahirkan tersebut menuju sebuah gunung . Bayi tersebut dipungut oleh seorang " penguasa " di desa Maddha, yang dalam perkembangan selanjutnya oleh seorang patih terkemuka dari Wilwatikta di bawa ke Wilwatikta dan diberi nama " Maddha ".
D. Analisis dan Intepretasi
Dari cerita tersebut di atas dapat dianalisis sebagai berikut :
- Cerita ini Lontar Babat gajah Mada ini memang mempunyai kemiripan dengan Cerita Babad Banten, namun agak jelas.
- Bahwa antara Gili Madri di selatan Lemah surat dengan Wilwatikta adalah dekat sekali karena setiap hari bisa ketemu untuk mengantarkan santapan makanan ke suaminya
- Mengenai Nama "Maddha" adalah nama dari desa dimana ia dilahirkan yang kemudian ditinggalkan oleh kedua orang tuanya, sedangkannama " Gajah " dihubungkan dengan Babad banten yang dianggap mempunyai kelebihan -kelebihan dan setelah diangkat pegawai di wilwatikta diberi kekuasaan tempat tinggal di desa " Gagajah " sehingga nama Gajah itu diberikan kemudian dan menjadi julukan " Gajah Madha ". artinya bisa dalam arti "Desa "atau dalam arti " orang kuat" sebutan tokoh-tokoh besar zaman Singasari dengan nama- nama binatang.
- airnya tumpah waktu ketemu Patni Nariratih artinya Mpu Suradharmayogi suaminya setelah bercumbu syahwatnya ( nafsu birahinya ) muncul Patni Nariratih menolak dan lari maka dicarilah Nariratih dari tempat yang agak jauh dari Gili Madri. Disitulah rayuan dan kepercayaan kehendak Brahma muncul dan terjadilah senggama yang akhirnya menimbulkan kehamilan
- Ditinggalkannya bayi di Bale Agung adalah merupakan suatu kepercayaan masyarakat " bahwa itu adalah titah dewa brahma dan anugerah serta kehendak dewa brahma " sebagai lambang kesucian
Kiranya cerita babad ini memberikan suatu gambaran bahwa gajah Mada adalah anak seorang pembesar Majapahit yang telah berjuang dan mengabdi pada negaranya Majapahit, Ayah dan ibunya dalam akhir hayatnya atau karena sesuatu ingin mengakiri hidup menjadi pendeta dalam menuju kesempurnaan hidup tapi apa boleh buat "Shang Hyang Widhi menghendaki lain dalam kehidupan manusia dan sejarahnya, sehingga mengharuskan Gajah Mada lahir dari keduanya.

anambintar@gmail.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar